Tag Archives: suntik silikon

PENYALAHGUNAAN SILIKON TERNYATA MASIH MARAK

injeksiDi Indonesia dampak negatif suntik silikon sebenarnya sudah ada. Masyarakat Indonesia, terutama kaum wanitanya, pasti pernah mendengar kasus Ny Martha. Wajah ibu tiga orang anak tersebut seakan tak berbentuk sebagai akibat suntik silikon ke wajahnya tiga tahun lalu.

Lebih parah dari itu adalah kasus gadis cantik Hilda Pasman. Gadis belia tersebut akhirnya meninggal akibat suntikan silikon ke payudaranya. Padahal Indonesia gadis tersebut tengah berlibur karena sebelumnya bermukim di Belanda.

Menurut Sekjen Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi) dr Theddeus O.H. Prasetyono MD, sepanjang tiga tahun terakhir anggota Perapi menangani 249 kasus akibat suntikan silikon, khususnya silikon cair. Kasus tersebut baru 15 persen yang dilaporkan anggota Perapi. “Jumlahnya akan lebih besar lagi karena seperti fenomena gunung es,” katanya di Jakarta baru-baru ini seperti dikutip Antara.

Penggunaan silikon, khususnya yang cair, untuk tujuan medis sebenarnya sudah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 1970. Namun hingga kini masih saja terjadi penyalahgunaan penyuntikan untuk tujuan mempercantik bagian tubuh tertentu para wanita.

Sayangnya banyak wanita yang ingin cantik secara instan kurang paham seluk beluk silikon. Padahal bahan yang disuntikkan ke tubuh mereka itu adalah silikon untuk industri. Bahkan tak jarang untuk keperluan penambal akuarium.

Lebih buruk dari itu, tindakan dilakukan bukan oleh dokter ahli bedah plastik. Tindakan penyuntikan dilakukan oleh tenaga ahli tersebut di klinik biasa atau salon kecantikan. Masyarakat memilih klinik atau salon kecantikan karena berbiaya lebih murah. Bahkan kini beredar kabar, ada yang berani menawarkan jasa suntik silikon cair hanya dengan biaya Rp 100.000.

Sekadar perbandingan, biaya operasi bedah plastik, misalnya, untuk memperindah hidung antara Rp 6 juta hingga Rp 11 juta. Sedangkan di klinik atau salon kecantikan berkisar Rp 3 juta sampai Rp 4 juta.

“Umumnya masyarakat tidak tahu kalau pekerjaan itu tidak boleh dilakukan oleh profesi yang bukan dokter spesialis bedah dan biasanya dapat informasi dari rujukan teman atau dari rayuan pelaku,” kata Teddy, panggilan dr Theddeus.

Selain persoalan tersebut, kaum wanita sudah saatnya menyadari bahwa penggunaan silikon cair sudah dilarang. Pelarangan itu mencakup untuk keperluan medis atau pun estetis karena berdampak buruk bagi fungsi organ tubuh. Pakar bedah plastik menyebut dampak negatif itu bisa berupa kulit tubuh menjadi jelek yang disertai warna merah pada bagian luar. Sedangkan dampaknya untuk kesehatan bisa seperti pusing-pusing dan infeksi organ.

Partikel silikon cair yang disuntikkan pada akhirnya akan menumpuk di jaringan dan memicu timbulnya reaksi inflamasi kronik yang disebut silikonoma.

Teddy menjelaskan, karena bentuknya yang cair, silikon cair yang disuntikkan ke organ tubuh akan meresap ke organ tubuh yang lain sehingga dampaknya sangat sulit dikontrol.

“Silikon cair juga tidak bisa diambil kembali dari jaringan secara menyeluruh dan bila sudah mengakibatkan gangguan akan sulit disembuhkan dan biaya penyembuhannya sangat mahal,” jelasnya.

Berkenaan dengan materi silikon, Teddy menjelaskan bahwa material tersebut sebenarnya merupakan bahan terbaik untuk kebutuhan implan guna memperbaiki tubuh manusia karena bersifat innert atau bisa diterima tubuh tanpa menimbulkan reaksi yang berarti.

“Dia tidak mengalami perubahan kimia di dalam tubuh, tetap stabil di dalam tubuh dan tidak terpengaruh suhu tubuh,” jelasnya.

Namun ia menegaskan, penyuntikan organ tubuh dengan silikon cair untuk keperluan apa pun tidak diperkenankan.

Operasi bedah plastik untuk tujuan rekonstruksi dan estetis sendiri, katanya, hanya menggunakan gel silikon dan silikon padat.

Gel silikon yang merupakan campuran antara silikon padat dan cair yang dibungkus dengan lembar silikon biasanya digunakan untuk pengisi implan payudara.

Sedangkan silikon padat terdiri atas lembar silikon atau bentuk implan jadi buatan pabrik yang digunakan untuk keperluan tertentu, seperti protesis katup jantung, testis tiruan serta implan hidung dan pipi.

Keputusan untuk melakukan setiap tindakan operasi bedah plastik sendiri, kata Teddy, harus dikonsultasikan dan dilakukan oleh oleh dokter yang memiliki kompetensi dan izin resmi untuk melakukannya.

Kolagen

Sebenarnya di samping silikon masih ada benda sejenis, yaitu kolagen. Cairan kolegan yang sudah masuk, misalnya disuntikkan lewat payudara, selanjutnya membentuk jaringan ikat kulit yang bisa menjadi keras dan kencang.

Cairan kolagen di kalangan dokter ahli bedah plastik merupakan kumpulan protein yang berasal dari rantai asam amino. Jika terjadi kesalahan tindakan, maka yang muncul adalah gelembung-gelembung. Bila diraba di sekitar payudara terasa benjolan seperti kelereng.

Dalam tubuh sendiri, kolagen terus diproduksi terutama rangka tubuh yang fungsinya sebagai bantalan antarsel. Sejalan dengan usia manusia, produksi kolagen bisa menurun yang ditandai dengan kerut-kerut di wajah.

Dokter ahli bedah plastik biasanya memberikan suntikan kolagen dari produksi di luar tubuh manusia. Kemajuan teknologi kedokteran memang memungkinkan misalnya dari tunjang hewan seperti sapi. Penyuntikan kolagen bisa membuat kulit yang semula berkerut menjadi mulus kembali.

Produksi kolagen dimulai sejak 1980-an. Awalnya difungsikan sebagai skin pengisi kulit, misalnya lubang bekas jerawat atau cacar bisa tertutup lagi. Kulit pun kembali mulus. Suntik kolagen ini bukan tanpa dampak negatif. Bisa berupa penolakan oleh tubuh sendiri. Bila dilakukan lewat suntik bisa menyebar ke seluruh tubuh. Sebut saja jika suntikan dilakukan di kaki, bisa jadi benjolan-benjolan akan muncul di bagian tubuh yang lain, misalnya selangkangan.

Lain halnya dengan silikon yang merupakan rentetan molekul silikat. Sebagian besar dokter ahli bedah plastik menjelaskan, makin panjang rentetan tersebut, bisa kian keras bahannya. Bila terkait dengan panjang dan pendeknya rentetan molekul, silikon tersebut dibagi menjadi silikon cair, kental (jelly) dan padat.

Silikon dalam bentuk jelly dikemas dalam kemasan khusus dengan tujuan agar tak pecah dan menyebar ke seluruh tubuh. Dalam bedah plastik, silikon padat dan jelly memang yang paling sering digunakan.

Bisa Diatasi

Silikon cair berbahaya dan sudah dilarang oleh pemerintah memang benar. Penggunaannya adalah akibat kian majunya teknologi kedokteran. Meski berbahaya dan bisa merenggut nyawa, bukan berarti tak ada jalan keluarnya.

Ini pula yang ditemukan oleh tim dokter dari RS Saiful Anwar (RSAA), Malang. Tim dokter dari kota tersebut menemukan cara baru untuk menanggulangi infeksi akibat suntikan silikon cair.

Dokter ahli bedah plastik di RS tersebut menggunakan obat phytofarmaka, berupa ekstrak tumbuhan dari China. Juga digunakan kapsul biologic response modifier (BRM) yang fungsinya untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Nah, masih ada lagi, dokter di sana menggunakan peeling, sejenis obat kanker yang dapat menghaluskan kulit.

Cara penanggulangan itulah yang dilakukan saat tim dokter RSSA menangani kasus Nyonya Marta (45) yang mengalami inflamasi (peradangan) akibat suntikan silikon cair pada Maret 1998 silam. Saat itu Nyonya Marta disuntik silikon cair pada bagian muka, dahi, hidung, dan dagu sebanyak tiga kali. (Mangku/berbagai sumber)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=173345

—————————————————–

Want More ?

Dampak Dandan terhadap Nilai Tukar Rupiah

READ THIS FIRST !

Stop Using Dangerous Cosmetics !

True Story : Bencana Krim Siang & Krim Malam

Dikagumi 9 dari 10 Laki-laki

Waria Tewas Usai Suntik Silikon


Senin, 24 Maret 2008 | 05:44 WIB

TANGERANG, SENIN – Waria pemilik salon, Lia (35), tewas usai suntik silikon untuk mempercantik diri. Peraih beberapa gelar di kompetisi waria tingkat nasional tersebut diduga telah dua hari meninggal ketika ditemukan Sabtu (22/3) malam. Namun polisi menduga, waria yang jadi tulang punggung keluarga ini meninggal akibat sakit.

Lia ditemukan telah meninggal dunia di ruang depan rumah sekaligus tempat usahanya di Jalan Raya Rajeg, Kampung Putat, Desa Sindangsari, Pasar Kemis, Tangerang. Adalah Diana (31), pelanggan Lia, yang menemukan pemilik Lia Salon itu tewas.

Menurut Omen, rekan Lia, sekitar 10 hari lalu Lia mengungkapkan keinginannya untuk suntik silikon. Lia merasa hidungnya terlalu besar dan perlu diperkecil serta dibuat lebih mancung agar penampilannya makin sip. Sekitar tiga hari setelah itu, Lia kembali bertemu Omen dan mengatakan dirinya telah menjalani suntik silikon di Jakarta. Namun Lia merahasiakan detail lokasi tempat ia menjalani suntik silikon.

Farius, juga rekan Lia, mengatakan sejak mengaku telah menjalani suntik silikon, Lia jadi sering mengeluh pilek dan sakit kepala. Untuk mengatasinya, Lia selalu minum obat sakit kepala ataupun obat flu.

Menurut polisi, Sabtu sekitar pukul 21.00, Diana yang hendak cuci dan potong rambut tiba di Lia Salon. Diana mengetuk-ngetuk pintu namun tak ada yang membukakan. Saat itu, lampu di ruang depan rumah Lia dalam keadaan menyala. Diana lalu mengintip dan melihat sesosok tubuh yang dibalut kaus putih dan celana jins selutut tergolek di sofa di ruang depan.

Diana lantas meminta tolong warga setempat untuk memeriksa rumah Lia. Warga pun membuka pintu rumah tersebut dan mendapati Lia sudah tak bernyawa. Bahkan, jenazah Lia telah mengeluarkan aroma tak sedap sehingga umur kematiannya diduga sudah dua atau tiga hari.

Yunus (29), tukang becak yang rutin mangkal di dekat Lia Salon, mengatakan mayat Lia ditemukan pada hari kedua salon tersebut tutup. Yunus maupun warga di situ mengaku tidak tahu alasan salon itu tutup dan tidak berusaha mencari tahu mengapa salon tutup sampai Diana meminta tolong karena ada yang mencurigakan di Lia Salon.

Menurut warga setempat, Lia telah berkali-kali meraih prestasi pada kontes waria tingkat nasional. Sebagai penata rambut, Lia memiliki banyak pelanggan. Oleh karena itu, begitu kabar Lia tewas tersebar, puluhan ibu dan gadis datang ke Lia Salon.

Orangtua Lia, Sukri (63), terkejut ketika mendapat kabar anaknya yang bernama asli Albani meninggal dunia. Lia yang telah 10 tahun membuka salon merupakan tulang punggung keluarga Sukri yang tinggal di Kampung Gunung, Mauk Timur, Kabupaten Tangerang. Sebulan sekali, Lia pulang ke Kampung Gunung untuk memberi uang kepada orangtuanya.

Sabtu malam itu, Sukri menolak jenazah Lia diotopsi dengan alasan agar bisa segera dimakamkan. Polisi kemudian memberi penjelasan sehingga Sukri mengizinkan jenazah Lia diotopsi. Pada Minggu siang, jenazah Lia dimakamkan di dekat rumahnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Tangerang AKP Ade Ari mengatakan bahwa Lia diduga meninggal karena sakit. Mengenai dugaan kematian Lia terkait dengan penyuntikan silikon beberapa hari sebelum kematiannya, Ade mengatakan bahwa polisi belum menerima informasi tentang itu. (Warta Kota/Celestinus Trias HP)

——————————————————————————————

Want More ?

Doctor Sentenced in Liposuction Death

Berharap Wajah Memutih, Malah jadi Merintih

Salon Vagina di BlackList Dokter Kandungan

Suntik Botox Kembali Makan Korban

Death Shows Danger of Silicone Injections

Mau Cantik, Maut Taruhannya



Hati-hati dengan bujuk rayu untuk mempercantik tubuh. Atas nama kecantikan, ada saja pihak-pihak yang tidak ahli di bidang bedah plastik kerap memanfaatkan orang-orang yang tergiur untuk memperindah kemolekan tubuh. Padahal, taruhannya nyawa.

Lisa, warga Kampung Baru, Kecamatan Sukarame, Palembang, adalah korban kecantikan dari malapraktik pembesaran payudara. Malang baginya, niat untuk mempercantik diri malah berujung maut. Dara manis berusia 23 tahun itu tewas, Selasa (25/7), dua hari setelah payudaranya disuntik silikon oleh Jum Febrianto (49).

Praktik terlarang itu dilakukan di Salon Budi, Jalan Kolonel H Burlian, Palembang, Minggu (24/7) sekitar pukul 11.00. Di ruang perawatan wajah salon tersebut, Lisa dibaringkan di tempat tidur.

Berlagak seperti seorang dokter, Jum, pria yang kerap disapa dengan mbak itu, menyuntikkan 150 cc silikon ke payudara Lisa agar ukurannya membesar empat sentimeter. Penyuntikan itu disaksikan oleh Budi Martino, pemilik salon, dan Venny, kakak Lisa.

Bagi Jum, warga Gang Sido Mulyo, Kelurahan Plaju Darat, Palembang, praktik itu bukan hal baru. Tahun ini, pria lulusan SMP itu sudah dua kali melakukan hal serupa. Ilmu memperbesar ukuran buah dada dengan suntikan silikon dipelajari dalam waktu satu minggu dari temannya, Deri.

Dari praktik tersebut, pria yang bekerja sebagai perias pengantin itu rencananya mendapat Rp 1,3 juta. Ia sudah mendapat uang muka Rp 1 juta, dan Rp 200.000 di antaranya dibayar ke Budi, pemilik salon, untuk komisi.

Jum mengakui, suntik silikon sangat berbahaya jika diberikan kepada orang yang punya alergi atau tidak sehat.

“Saya tahu risikonya. Suntik silikon bisa mematikan. Tetapi saya sudah mencoba ini dua kali, dan berhasil,” tutur pria berambut pirang itu. Ia sendiri sudah pernah disuntik silikon pada bagian buah dada, hidung, dan dagunya dengan bantuan Deri.

Budi, pemilik salon, mengaku menyediakan tempat praktik suntik silikon karena tidak tahu risikonya. Ia tergiur menawarkan layanan itu karena ada permintaan dari pelanggan.

Akibat perbuatannya, Jum dan Budi kini mendekam di tahanan di Kepolisian Sektor Sukarame.

Kepala Kepolisian Kota Besar Palembang Komisaris Besar Wakin Mardiwiyono mengatakan, praktik suntik silikon yang ilegal dan menimbulkan korban jiwa itu baru sekali terungkap di Palembang. “Sangat dimungkinkan masih banyak salon kecantikan yang melakukan praktik ilegal semacam itu di Palembang,” katanya.

Ada permintaan, ada barang. Praktik terlarang itu pun menjerumuskan mereka yang terobsesi memperindah tubuh dalam kondisi keuangan terbatas dan pengetahuan kurang. (bm lukita grahadyarini) www2.kompas.com

——————————————————————-

Kosmetik Bocorkan Ginjal, Lebih 10 Wanita Bocor Ginjalnya di Medan

Praktik Bedah Platik Gelap, Dokter Dihukum 3 Tahun

Waria Tewas Usai Suntik Silikon

Disuntik Silikon, Hidung Lela Berantakan

Whitening Cream : Serigala Berbulu Domba ?


Memermak Kecantikan Berujung Kematian


Liputan6.com, Surabaya: Banyak jalan menuju cantik. Hal itu didukung oleh industri kecantikan. Wajar saja jika salon kecantikan terus disesaki. Pelayanan yang ditawarkan beragam mulai dari mengukir kuku hingga menata rambut. Belakangan, bagian tubuh yang dinilai “tak normal” juga bisa dipermak. Hidung bisa mancung, payudara lebih kencang, bokong dan pipi berisi sampai membuat pinggul yang aduhai. Semua itu tak mustahil dengan suntik silikon.

Bisa jadi alasan itulah yang membawa Sugiyati ke sebuah salon di kawasan Dukuh Kupang, Surabaya, akhir Maret silam. Perempuan yang akrab disapa Christin ini menemui ahli kecantikan Samsul Antonius. Ibu satu anak itu ingin Anton menyuntik payudaranya biar terlihat kencang. Namun, tanpa disangka, warga Bondowoso, Jawa Timur, itu lemas beberapa saat setelah diinjeksi. Anton segera melarikan Christin ke Klinik Pusura. Setelah mendapat perawatan dan diberi obat, perempuan berusia 25 tahun itu kemudian diperbolehkan pulang. Tapi, ternyata pengobatan tersebut tak manjur. Keesokan harinya Christin dibawa ke rumah sakit dan menemui ajalnya di sana.

Polisi pun segera menangkap Anton. Pria tersebut kini mendekam di Tahanan Markas Kepolisian Resor Kota Surabaya Selatan. Anton ditahan dengan tuduhan menghilangkan nyawa seseorang karena lalai. Tentu saja, tudingan itu ditepis Sutomo, kuasa hukum Anton. Menurut Sutomo, kliennya tak bisa menolak permintaan pelanggannya. Anton juga mengaku menyuntikkan sejenis obat pembius, pehacain dan bukan silikon.

Prof DR Johansyah Marzoeki menyangsikan keterangan Anton. Pakar bedah plastik dari Universitas Airlangga ini berpendapat, kemungkinan seseorang meninggal akibat suntikan pehacain sangat kecil. Informasi yang diserap Johansyah mengatakan, korban mendapat suntikan jenis lain. Agar masalah ini jelas, Sutomo berkeras agar polisi menyelidiki penyebab kematian Christin.

Sayangnya, polisi kesulitan mengotopsi mendiang Christin. Sebab keluarganya keberatan jika kuburan Christin dibongkar. Namun, polisi terus berupaya agar kasus tersebut terungkap tuntas. Caranya dengan menggerebek salon Anton dan sejumlah klinik perawatan kecantikan yang menjajakan jasa suntik kecantikan. Hasilnya, polisi menyita kolagen, placenta, dan pehacain. Sejauh ini, polisi belum berhasil menemukan silikon cair yang dimanfaatkan untuk suntikan kecantikan.

Sebenarnya, Christin bukan satu-satunya korban reklame cara ekspres membuat payudara tak melorot. Tapi, kematiannya menghentakkan semua pihak agar berhati-hati. Maklum, sepuluh tahun terakhir suntik silikon menjadi bahan hangat yang mengitari benak para perempuan. Banyak kalangan yang tergiur menggunakan metode tersebut dengan ongkos yang lumayan murah antara Rp 50.000 sampai Rp 1 juta. Anehnya, para calon pasien tak pernah kapok meski cerita dan fakta penderitaan akibat suntik silikon juga berderet. Mulai dari hidung yang nyeri dan seperti “gajah” hingga payudara yang mengeras dan menyatu sampai penggelembungan di daerah yang tak seharusnya.

Tengok saja pengalaman Sumiyati. Karena ingin lebih cantik, dia disuntik silikon di Surabaya, Juni tahun silam. Ibu empat anak ini ingin tampak ayu sebelum ke Taiwan sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Lima bulan kemudian –ketika berada di Taiwan– wajah perempuan asal Banyuwangi, Jatim itu membengkak tak keruan. Setelah berkonsultasi ke dokter, Sumiyati disarankan menjalani operasi. Walau mukanya rusak dan mesti merogoh kocek lebih banyak untuk perbaikan, Sumiyati enggan mengadukan salon kecantikan tersebut.

Hal yang sama terjadi pada Rasyid. Dia mengaku tak mengetahui efek samping suntik silikon. Rasyid memakai silikon karena penasaran. Sedangkan Tety Suryani memancungkan hidungnya dengan silikon karena terpengaruh bujukan temannya. Perempuan muda ini baru merasakan nyeri setelah dua tahun hidungnya diisi silikon.

Dokter ahli bedah Sidik Setiamihardja mengingatkan bahwa silikon cair paling berbahaya ketimbang suntikan lain. Karena itu, tambah dia, ahli bedah plastik tak pernah menggunakan silikon cair. Sebenarnya, silikon (sejenis karet) adalah bahan pembuat televisi, komputer, pesawat udara, dan peralatan kedokteran. Kemudian silikon digunakan untuk operasi kosmetik bagi korban perang pada pasca-Perang Dunia II.

Menurut Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia DR Imam Susanto, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) melarang penggunaan silikon cair dalam dunia medis sejak 1970. Sebab, berakibat kematian dan kanker. Sebagai pengganti, digunakan silikon padat atau gel yang dimasukkan ke bagian tubuh melalui operasi. Dua jenis silikon tadi mempunyai tingkat bahaya yang cukup minim.

DR Audy Budiarty menerangkan, kolagen adalah bentuk produk protein yang menjadi serat jaringan ikat antarsel yang memberikan elastisitas kulit. Dokter spesialis bedah itu mengatakan, kadar kolagen seseorang semakin menyusut seiring perjalanan usia. Hal itu ditandai dengan pemunculan keriput. Untuk itu para ahli menciptakan kolagen buatan yang terbuat dari tubuh sapi atau babi. Tapi, penggunaan silikon yang marak membuka peluang untuk pemalsuan produk. Menurut cermatan Audy, bukan tidak mungkin yang disuntikkan ke pasien bukan kolagen tapi zat lain yang berbahaya, seperti silikon cair. Kendati kemasannya bertulisan kolagen.

Persoalannya, agaknya para pemilik salon memanfaatkan ketidaktahuan pasien untuk mendulang rezeki. Sebaliknya, tak semua pasien mau melaporkan akibat yang diperoleh setelah berupaya mempercantik diri tersebut. Padahal, Surya Tjandra dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta berpendapat, kunci utama memperkarakan kasus ini secara hukum adalah pengaduan.

Agaknya, masalah yang mencuat akibat silikon tak bakal selesai jika semua orang mengerti betul arti cantik. Identifikasi cantik yang dicekoki iklan dan industri kecantikan mesti dijungkirbalikkan. Cantik tak melulu berkulit putih, berhidung mancung, berleher jenjang, berpayudara montok, berpinggul bahenol, berbokong penuh, dan sederet kriteria bikinan lain. Sebab, segala sesuatu yang diberikan Tuhan baik adanya. Lagipula, buat apa menjadi “cantik” jika harus menanggung penderitaan bahkan kematian?(TNA/Tim Derap Hukum)

liputan6.com

———————————————————————————————

Belajar dari Kasus Hilda

Spanish Look into Death of Nigerian First Lady After Cosmetic Surgery

Kanye West’s Mother Dies After Cosmetic Surgery

Surgeons Who Promise Beauty Destroy Lives by Lethal Injections

Doctor Sentenced in Liposuction Death

Berharap Wajah Memutih, Malah jadi Merintih

Salon Vagina di BlackList Dokter Kandungan

Suntik Botox Kembali Makan Korban

Death Shows Danger of Silicone Injections

New York Beauticians Convicted of Disfiguring Faces of Two Clients with Bogus  Cosmetics Injections

Teen Dies After Allergic Reaction to Acne Medication

Suffering for Beauty has Ancient Root

Suntik Payudara : Belajar dari Kasus Hilda

Hati-hati dengan Cara Instan untuk Cantik

JAKARTA – Tampil cantik dan sehat tentu sangat didambakan kaum wanita. Sehingga banyak cara instan yang ditempuh untuk cantik dalam sekejap tanpa memikirkan efek sampingnya. Contohnya, penyuntikan silikon cair maupun kolagen terhadap bagian tubuh tertentu untuk mempertahankan keindahan wajah dan tubuh.
Akibat ingin cantik dan molek itulah, seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Belanda, Hilda Pasman (20), justru tewas ketika sedang berupaya menyempurnakan penampilannya dengan cara memperbesar payudara. Perempuan itu tewas setelah Ho Tjun Tju, pemilik Salon Cucu, yang membuka usaha 15 tahun di bidang kecantikan, menyuntikkan cairan yang diakui sebagai kolagen ke dalam payudara Hilda.
Polsek Metro Kebon Jeruk akan mengirimkan botol berisi cairan yang disuntikkan ke payudara Hilda itu, ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, untuk memastikan apakah cairan itu kolagen atau zat lainnya. Untuk melengkapinya, Kapolsek Kebon Jeruk, Komisaris Ahmad Alwi, akan memanggil saksi ahli dari Departemen Kesehatan dan instansi terkait lainnya.
Di depan penyidik, Ho Tjun Tju mengatakan pada mulanya ia menolak memberikan suntikan kepada Hilda karena waktu itu hari Sabtu (7/8) sekitar pukul 16.00 WIB, ia hendak berangkat ke gereja. Tapi ternyata Hilda tetap memaksa Ho Tjun Tju supaya memberikan suntikan kolagen agar payudaranya membesar dan kencang. Beberapa saat kemudian setelah disuntik, Hilda justru kejang-kejang dan pingsan. Kemudian ketika dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RS Graha Medika, Hilda telah tewas.

Kejadian yang sama pernah terjadi pada Christin di Surabaya, yang tewas karena menyuntikkan kolagen ke dalam payudaranya pada tahun 2001. Di kalangan masyarakat pun, kini masih banyak ditemukan adanya kerusakan bentuk tubuh akibat kedua cairan tersebut. Menilik kasus-kasus tersebut sebenarnya dapat dikatakan upaya mempercantik diri itu sebenarnya hanya membuahkan kecantikan sesaat. Selanjutnya hanya penderitaan yang mereka dapatkan. Mengapa?
Seperti yang dikutip dari aplcare.com, silikon dan kolagen cair merupakan material yang banyak digunakan dalam operasi bedah plastik. Penggunaan silikon dan kolagen dalam bedah plastik harus dilakukan oleh dokter bedah plastik yang benar-benar mengerti mengenai hal ini. Alasannya, silikon maupun kolagen cair tidak dapat dibuang kapan pun diinginkan.
Penggunaan silikon dan kolagen untuk operasi plastik sebenarnya sangat terbatas. Silikon cair sudah ditinggalkan penggunaannya sejak 1970, karena banyak menimbulkan efek samping yang kurang baik. Sejak saat itu pula di luar negeri dikeluarkan pelarangan penggunaan silikon cair. Demi keamanan, implan silikon yang sampai saat ini masih digunakan adalah dalam bentuk padat dan gel.
Sedangkan penggunaan kolagen banyak dihindari karena reaksi hiper sensitivitas dan hasil yang kurang seimbang. Dr Sumintha B. Djaya, SpBP, anggota Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi) bahkan tidak percaya kolagen tidak ada lagi di Indonesia. Berdasarkan sifat dan cara kerjanya, penggunaan implan kolagen adalah sebagai sarana rejuvenasi kulit (mengatasi kerutan akibat proses penuaan), bukan untuk tujuan augmentasi (mempertinggi organ tertentu seperti memancungkan hidung, mempertinggi pipi, dsb).

Kerusakan Jaringan
Partikel-partikel silikon cair akan menumpuk di jaringan di tempat disuntikkan dan memicu timbulnya inflamasi kronik. Kerusakan jaringan yang demikian disebut sebagai silikonoma. Penyalahgunaan silikon cair akhir-akhir ini marak dilakukan, di klinik maupun salon kecantikan yang belum mendapatkan pendidikan tentang bedah plastik. Untuk salon-salon tertentu, mereka bahkan tidak memilki kualifikasi medis sama sekali. Umumnya, mereka menjanjikan kecantikan dan kemolekan dengan harga murah.
Di antara klinik dan salon tersebut banyak juga yang mencampur silikon cair dengan bahan-bahan lain yang dapat menambah kekenyalan. Selain itu, penambahan bahan ini juga untuk mempermurah harga silikon bagi pasien. Sayangnya, bahan-bahan tambahan itu pada akhirnya justru menyebabkan reaksi alergi pada tubuh. Akibatnya, bukan cantik dan molek yang didapat, tapi malah penyesalan seumur hidup dan tak jarang berujung pada kematian.
Menurut pengakuan Nunung (bukan nama sebenarnya), pemilik salon kecantikan, cairan silikon yang banyak digunakan saat ini adalah cairan minyak yang biasanya digunakan sebagai pelumas mesin foto copy. Warnanya bening dan berbentuk cair seperti minyak goreng. Di pasaran, cairan itu biasa dijual sekitar Rp 30.000 per liter, namun di toko kimia harganya bisa mencapai Rp 100.00 per liter.
Harga itu akan lebih mahal dua kali lipat, jika diperdagangkan di klinik maupun salon kecantikan. Lazimnya, perdagangan tersebut dilakukan dalam ukuran cc. Untuk membuat tonjolan di pipi, dagu maupun hidung, hanya membutuhkan 5 cc silikon. Sedangkan untuk memperbesar payudara diperlukan lebih dari 40 cc. Mereka harus membagi silikon dalam 5 cc silikon untuk satu kali penyuntikan. Ini berarti, ada sekitar delapan kali penyuntikan untuk memperbesar satu payudara.
Sementara itu, payudara dikelilingi oleh banyak pembuluh darah yang lembut. Ketidakhati-hatian dalam melakukan penyuntikan akan mengakibatkan pembuluh darah tersebut sobek. Ujung-ujungnya, cairan silikon tersebut bocor dan menjadi satu dengan darah, yang kemudian mengalir ke dalam jantung. “Itu kan kayak minyak jadi menggumpal ketika ada di jantung, sehingga jantungnya tidak dapat memompa darah. Atau paling ringan minyak itu bercampur dengan darah,” kata Nunung.
Nunung mengaku, selama ini dirinya selalu menolak pasien yang berkeinginan menyuntikkan silikon ke dalam bagian tubuhnya. Dia malah mengaku sering menolong dan mengobati orang-orang yang bentuk tubuhnya mengalami gangguan akibat penggunaan silikon.
Banyaknya korban yang jatuh tersebut, akibat maraknya klinik dan salon ilegal yang menggunakan silikon cair untuk mempercantik pasiennya. Namun, di Indonesia hal tersebut tak kunjung mendapatkan tindakan secara agresif. Mereka umumnya hanya dikenai pidana karena telah melakukan usaha ilegal. Sementara, hukuman karena telah memasukkan sesuatu ke dalam tubuh belum ada.
Untuk itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berusaha memasukkan permasalahan tersebut ke dalam salah satu pasal dalam Rancangan Undang Undang (RUU) Kedokteran. Surya Chandra, anggota Komisi VII DPR, mengemukakan bahwa pasal khusus tersebut akan memberi sanksi bagi setiap orang yang memberikan pelayanan seperti layaknya seorang dokter untuk mengintervensikan suatu benda ke dalam tubuh.
“Kalau salon-salon yang menggunakan jasa dokter tetapi tidak mendapatkan izin, maka dokternya pun juga bisa kena sanksi,” katanya. Hukuman yang diberikan akan semakin tinggi jika perbuatan tersebut mengakibatkan kematian. Dengan adanya undang-undang tersebut, paling tidak dapat membuat jera para pelakunya. (SH/tutut herlina/maya handini) sinarharapan.co.id/

——————————————————————–

Want More ?

Kosmetik Bocorkan Ginjal, Lebih 10 Wanita Bocor Ginjalnya di Medan

Praktik Bedah Platik Gelap, Dokter Dihukum 3 Tahun

Waria Tewas Usai Suntik Silikon

Disuntik Silikon, Hidung Lela Berantakan

Whitening Cream : Serigala Berbulu Domba ?

Mau Cantik, Maut Taruhannya

Memermak Kecantikan Berujung Kematian

Mengandung Zat Kimia Berbahaya


Death shows danger of silicone injections


Case shines spotlight on practice
known as ‘pumping’


Todd Stone / AP

Nikkia Scott, shown here March 29 at her home in Albany, Ga., holds a newspaper article about her. Scott, identified as Freddie Clyde in court documents, was charged with conspiracy and practicing medicine without a license following the death of Andre Jeter, who died after being injected with industrial grade silicone.

updated 4:16 p.m. ET April 1, 2004

ALBANY, Ga. – Nikkia Scott and other drag queens have been getting illegal, back-room injections of industrial-grade silicone to give themselves some of the things nature denied them when they were born male — breasts, wider hips, more prominent cheekbones.

They know the risks are extreme, and still they do it.

“Anything you put in your body that don’t belong there will hurt you in the long run,” Scott said of her $6,000 worth of injections. “But believe me, it has been worth it. It has been worth it.”

The dangers were illustrated recently by the death of 23-year-old Andre D. Jeter, who authorities say suffered convulsions and fell unconscious Dec. 10 after receiving injections in her hips and buttocks during a “pumping party” in Albany. She died a month later.

One of Scott’s roommates, Stephen Oneal Thomas, 31, was charged last week with murder and other offenses for allegedly administering the injections. Thomas’ lawyer refused on Tuesday to comment.

Scott and three others were also arrested in the case and charged with conspiracy and practicing medicine without a license. They were accused, among other things, of helping Thomas by recruiting patients at drag-queen beauty pageants.

The victim was a man living as a woman, as are all four defendants.

Spotlight on ‘pumping’
The death has thrown a spotlight on “pumping,” a thriving underground practice among men living as women, particularly those who compete in beauty pageants and perform in drag shows. Pumping parties are typically held in motel rooms or apartments.

While medical-grade silicone is implanted under the skin in sealed sacs to keep it from leaking, pumping involves injecting silicone straight into the body.

And the silicone used is the stuff sold in hardware stores as a sealant. It is not sterile and can cause infections, particularly in the lungs.

The silicone is often mixed with paraffin, oil, even peanut butter, said Dallas Denny of the transgender support group Gender Education & Advocacy. In Jeter’s case, it was probably mixed with baby oil, based on how it smelled to others who received the injections, said James Paulk, an investigator for the district attorney.

There was so much silicone in Jeter’s body that when incisions were made during the autopsy, a clear, brownish liquid flowed out, Paulk said.

‘Slew’ of injuries reported
The scope of the phenomenon is unclear. The Centers for Disease Control and Prevention, the Food and Drug Administration and transgender groups said they do not keep track of the problem. But Paulk said a “slew” of people have been injured, including three or four in Montgomery, Ala., six or seven in Columbus, Ga., and a few in Jacksonville, Fla.

“The transgender society is a very tight-knit society. They don’t like to give each other up because if you do, you get barred from the pageants,” Paulk said. “If they’re not hurting and they’re not experiencing medical problems, they aren’t calling me.”

A day after his arrest, a stubble-faced Scott, wearing large hoop earrings, was back to gluing weaves to heads at a beauty parlor in Albany, a town 150 miles south of Atlanta. His roommate Jazz, also arrested in the case, was at home, wearing pajamas and pink flowered flip-flops.

Jazz and Scott compete in drag shows during “black society” nights at a bar called Queens in Albany. They dress in gowns and rhinestones and perform songs for tips.

They both strongly denied any involvement in giving silicone injections and said they did not know their roommate Thomas was “pumping.”

Severe side effects
Scott, identified as Freddie Clyde in court documents, said her silicone injections have not caused any serious health problems. But Jazz, whose legal name is Mark Edwards, said she has had three procedures — face, bust and lower body — that cost her about $3,300, and has suffered severe side effects.

Last year, she said, she started coughing heavily and discovered that the silicone had gotten into her lungs, giving her chemical pneumonia. She spent two months in the hospital and several more months on bed rest, and her weight dropped from 270 to 150.

She also lifted up her T-shirt to show the scar under one of her breasts where doctors went in to remove a hardened clump of silicone.

As for Jeter, Jazz said, she had taken the injections too far. Jeter had complained that her head itched and that her hair had stopped growing, according to Jazz. “Jeter was making herself look like a monster,” Jazz said.

Despite her own health problems, Jazz said she has nothing against the woman who gave her the injections.

“I don’t want to prosecute her, I want to thank her,” she said. “I’m the one who wanted the work. She did nothing wrong but what I wanted.”

© 2008 The Associated Press. All rights reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten or redistributed.

http://www.msnbc.msn.com/id/4647349/

———————————————————————————–

Want More ?


Kosmetik Bocorkan Ginjal, Lebih 10 Wanita Bocor Ginjalnya di Medan

Praktik Bedah Platik Gelap, Dokter Dihukum 3 Tahun

Waria Tewas Usai Suntik Silikon

Disuntik Silikon, Hidung Lela Berantakan

Whitening Cream : Serigala Berbulu Domba ?

Mau Cantik, Maut Taruhannya

Memermak Kecantikan Berujung Kematian

Mengandung Zat Kimia Berbahaya

Belajar dari Kasus Hilda

Spanish Look into Death of Nigerian First Lady After Cosmetic Surgery

Kanye West’s Mother Dies After Cosmetic Surgery

Surgeons Who Promise Beauty Destroy Lives by Lethal Injections

Doctor Sentenced in Liposuction Death

New York Beautician Convicted of Disfiguring Faces of Two Clients With Bogus Cosmetic Injections

Friday, October 17, 2008



A New York City beautician has been convicted of giving two clients bogus cosmetic injections that disfigured their faces.

Patricia Villegas was found guilty Wednesday of charges including assault, reckless endangerment and scheme to defraud. The 54-year-old faces up to 14 years in prison.

Defense lawyer Sean McNicholas says Villegas never did anything improper to one of the complaining clients, and never even treated the other. He says Villegas plans to appeal.

Queens prosecutors say the women paid a total of more than $2,000 for injections they were told were beauty enhancers including collagen and cortisone, but were actually “consistent with silicone.”

Prosecutors say the women’s lips became so deformed they had trouble talking and eating, and multiple surgeries have left them with permanent scars.

——————————————————————–

Want More ?

Kosmetik Bocorkan Ginjal, Lebih 10 Wanita Bocor Ginjalnya di Medan

Praktik Bedah Platik Gelap, Dokter Dihukum 3 Tahun

Waria Tewas Usai Suntik Silikon

Disuntik Silikon, Hidung Lela Berantakan

Whitening Cream : Serigala Berbulu Domba ?

Mau Cantik, Maut Taruhannya

Memermak Kecantikan Berujung Kematian

Mengandung Zat Kimia Berbahaya

Belajar dari Kasus Hilda

Spanish Look into Death of Nigerian First Lady After Cosmetic Surgery

Suntikan Silikon Cair, Murah Merusak

Hati-Hati! Ingin Cantik Malah Wajah Rusak

Selasa, 15 May 2007 15:27:03

Pdpersi, Jakarta - Awas! Silikon cair yang telah dilarang digunakan sejak tiga puluh tahun lalu, ternyata sampai saat ini masih beredar. Zat kimia berbahaya ini kerap masih disalahgunakan, menyuntik organ tubuh tertentu dengan tujuan estetika.

Akibatnya, selama tiga tahun terakhir PERAPI menangani sedikitnya 249 kasus gangguan organ akibat penyuntikan silikon cair.

Sekretaris Jendral Pehimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (PERAPI) Theddeus O.H Prasetyono mengungkapkan hal itu di Jakarta hari ini.

“Itu baru laporan dari 15% anggota PERAPI, jumlah kasus sebenarnya bisa jauh lebih besar. Seperti fenomena gunung es,” kata dokter yang akrab disapa Teddy itu.

Pada periode yang sama, Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) juga menerima 32 pengaduan terkait gangguan akibat penyuntikan silikon cair.

Silikon cair yang disuntikkan ke organ tubuh pasien tersebut, kata Teddy, umumnya silikon industri, biasa digunakan untuk pelapis mesin, pelumas mesin, peralatan rumah tangga, dot bayi serta penambal akuarium.

Penyuntikan silikon cair oleh tenaga tidak ahli itu, umumnya dilakukan oleh klinik atau salon kecantikan yang tak memiliki tenaga dokter ahli bedah plastik.

Jasa suntik silikon cair di klinik nonprofesional dan salon kecantikan itu umumnya dipilih karena biayanya lebih murah.

Biaya operasi bedah plastik estetis untuk memperindah hidung yang dilakukan oleh dokter ahli mencapai Rp6 juta-Rp11 juta. Sedangkan, di salon kecantikan penyuntikan silikon cair hanya Rp3 juta-Rp4 juta.

Bahkan, spesialis bedah plastik kecantikan dan rekonstruksi Audy Budiarty mengungkapkan sebagian pelaku menjual jasa penyuntikan hanya seharga Rp100 ribu, bisa dicicil tiga kali.

“Umumnya masyarakat tidak tahu kalau pekerjaan itu tidak boleh dilakukan selain dokter spesialis bedah, biasanya dapat informasi dari rujukan teman atau dari rayuan pelaku,” jelas Teddy.

Audy menegaskan, penggunaan silikon cair untuk tujuan medis maupun estetis dilarang karena berdampak buruk terhadap bentuk, kesehatan dan fungsi organ tubuh.

“Bentuknya jadi jelek, bagian luar merah, menimbulkan abses, pusing-pusing, dan infeksi organ,” kata Audy.

Partikel silikon cair yang menumpuk di jaringan akan menimbulkan reaksi inflamasi kronik yang disebut silikonoma. Silikon cair yang disuntikkan ke organ tubuh akan meresap ke organ tubuh, dampaknya sangat sulit dikontrol. Sehingga, penyuntikan organ tubuh dengan silikon cair untuk keperluan apapun tidak diperkenankan.

“Silikon cair juga tidak bisa diambil kembali dari jaringan secara menyeluruh, jika sudah menimbulkan gangguan sudah sulit disembuhkan, biayanya sangat mahal,” kata Audy.

Hanya Boleh Silikon Padat Audy menegaskan, material yang diperbolehkan untuk operasi bedah plastik, baik itu bertujuan rekonstruksi maupun estetis hanyalah gel silikon dan silikon padat.

Gel silikon adalah campuran silikon padat dan cair yang dibungkus dengan lembar silikon, biasanya digunakan mengisi implan payudara. Sedangkan silikon padat terdiri atas lembar silikon atau bentuk implan jadi buatan pabrik, digunakan untuk keperluan tertentu seperti protesis katup jantung, testis tiruan serta implan hidung dan pipi.

Material tersebut sebenarnya merupakan bahan terbaik sebagai bahan implan, guna memperbaiki tubuh manusia. Pasalnya, bisa diterima tubuh tanpa menimbulkan reaksi negatif.

“Tidak mengalami perubahan kimia di dalam tubuh, tetap stabildan tidak terpengaruh suhu tubuh,” jelas Audy.

Ia menambahkan, setiap keputusan untuk setiap tindakan operasi bedah plastik, harus dikonsultasikan oleh dokter dengan kemampuan dan berizin resmi.(izn)
pdpersi.co.id/

———————————————————————

Henna hazard: Chemical causes ornate allergies

No Such Thing as a Safe Tan, Scientists Say

FDA Cracks Down on Skin Cream and Eye Wash

Awas, Bunuh Diri Gara-gara Obat Diet!

Botox Menimbulkan Kecanduan

Wewangian, Dicinta namun Berbahaya

Hindari Kosmetik yang Mengandung MIT

Kosmetik Berbahaya Bisa Akibatkan Kerusakan Otak

New Born Killer : Lip Gloss !