Tag Archives: tewas akibat suntik silikon

Waria Tewas Usai Suntik Silikon


Senin, 24 Maret 2008 | 05:44 WIB

TANGERANG, SENIN – Waria pemilik salon, Lia (35), tewas usai suntik silikon untuk mempercantik diri. Peraih beberapa gelar di kompetisi waria tingkat nasional tersebut diduga telah dua hari meninggal ketika ditemukan Sabtu (22/3) malam. Namun polisi menduga, waria yang jadi tulang punggung keluarga ini meninggal akibat sakit.

Lia ditemukan telah meninggal dunia di ruang depan rumah sekaligus tempat usahanya di Jalan Raya Rajeg, Kampung Putat, Desa Sindangsari, Pasar Kemis, Tangerang. Adalah Diana (31), pelanggan Lia, yang menemukan pemilik Lia Salon itu tewas.

Menurut Omen, rekan Lia, sekitar 10 hari lalu Lia mengungkapkan keinginannya untuk suntik silikon. Lia merasa hidungnya terlalu besar dan perlu diperkecil serta dibuat lebih mancung agar penampilannya makin sip. Sekitar tiga hari setelah itu, Lia kembali bertemu Omen dan mengatakan dirinya telah menjalani suntik silikon di Jakarta. Namun Lia merahasiakan detail lokasi tempat ia menjalani suntik silikon.

Farius, juga rekan Lia, mengatakan sejak mengaku telah menjalani suntik silikon, Lia jadi sering mengeluh pilek dan sakit kepala. Untuk mengatasinya, Lia selalu minum obat sakit kepala ataupun obat flu.

Menurut polisi, Sabtu sekitar pukul 21.00, Diana yang hendak cuci dan potong rambut tiba di Lia Salon. Diana mengetuk-ngetuk pintu namun tak ada yang membukakan. Saat itu, lampu di ruang depan rumah Lia dalam keadaan menyala. Diana lalu mengintip dan melihat sesosok tubuh yang dibalut kaus putih dan celana jins selutut tergolek di sofa di ruang depan.

Diana lantas meminta tolong warga setempat untuk memeriksa rumah Lia. Warga pun membuka pintu rumah tersebut dan mendapati Lia sudah tak bernyawa. Bahkan, jenazah Lia telah mengeluarkan aroma tak sedap sehingga umur kematiannya diduga sudah dua atau tiga hari.

Yunus (29), tukang becak yang rutin mangkal di dekat Lia Salon, mengatakan mayat Lia ditemukan pada hari kedua salon tersebut tutup. Yunus maupun warga di situ mengaku tidak tahu alasan salon itu tutup dan tidak berusaha mencari tahu mengapa salon tutup sampai Diana meminta tolong karena ada yang mencurigakan di Lia Salon.

Menurut warga setempat, Lia telah berkali-kali meraih prestasi pada kontes waria tingkat nasional. Sebagai penata rambut, Lia memiliki banyak pelanggan. Oleh karena itu, begitu kabar Lia tewas tersebar, puluhan ibu dan gadis datang ke Lia Salon.

Orangtua Lia, Sukri (63), terkejut ketika mendapat kabar anaknya yang bernama asli Albani meninggal dunia. Lia yang telah 10 tahun membuka salon merupakan tulang punggung keluarga Sukri yang tinggal di Kampung Gunung, Mauk Timur, Kabupaten Tangerang. Sebulan sekali, Lia pulang ke Kampung Gunung untuk memberi uang kepada orangtuanya.

Sabtu malam itu, Sukri menolak jenazah Lia diotopsi dengan alasan agar bisa segera dimakamkan. Polisi kemudian memberi penjelasan sehingga Sukri mengizinkan jenazah Lia diotopsi. Pada Minggu siang, jenazah Lia dimakamkan di dekat rumahnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Tangerang AKP Ade Ari mengatakan bahwa Lia diduga meninggal karena sakit. Mengenai dugaan kematian Lia terkait dengan penyuntikan silikon beberapa hari sebelum kematiannya, Ade mengatakan bahwa polisi belum menerima informasi tentang itu. (Warta Kota/Celestinus Trias HP)

——————————————————————————————

Want More ?

Doctor Sentenced in Liposuction Death

Berharap Wajah Memutih, Malah jadi Merintih

Salon Vagina di BlackList Dokter Kandungan

Suntik Botox Kembali Makan Korban

Death Shows Danger of Silicone Injections

Disuntik Silikon, Hidung Lela Berantakan


inmagine.com


PARAS Lela (bukan nama sebenarnya – red) sebenarnya cukup cantik. Mukanya oval, bibir tipis. Tubuhnya pun langsing. Tapi, simak wajahnya. Ada sesuatu yang tidak pas di bagian hidung. Hidung Lela memang mancung. Tapi, terlihat tidak matching dengan wajahnya.

“Kalau tahu bakal begini saya gak mau. Saya kadang minder. tapi, mau bagaimana lagi…,”kata Lela lirih, Kamis (13/11).

Lela sudah berusaha memperbaiki bentuk hidungnya pada tahun 2005. Ia pergi ke Jakarta dan pergi ke dokter ahli ternama di Jakarta. Uang yang dikeluarkan cukup banyak Rp 12 juta. Tetapi, upayanya tak membuahkan hasil sempurna.

“Saya menyesal melakukan operasi hidung dengan suntik silikon. Seandainya bisa memilih lebih baik saya tetap dengan bentuk hidung asli pemberian Tuhan,” ujarnya penuh penyesalan.

Ihwal kisah dirinya dialami saat ia baru berumur 18 tahun. Saat itu, ia kerja di salon. Ia diiming-imingi si pemilik salon untuk memperindah hidung.

“Masak saya bisa membuat orang cantik, tapi justru kamu yang kerja di sini tidak mau,” kata Lela mengingat bujuk rayu pemilik salon tempatnya bekerja.

Awalnya kata Lela, hidungnya memang jadi mancung. Namun lambat laun setelah tiga tahun, ternyata terjadi perubahan. Bagian bawah hidungnya membesar dikarenakan sifat dasar air mencari tempat yang rendah.

“Saya menyesal sekali, karena muka saya kelihatan tidak normal,” kata Lela yang bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Kolagen Asli Mahal

Dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin Raden H Pamudji menyarankan agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh penjualan ilegal yang mengatasnamakan produk kecantikan.

“Anda harus cek apa betul cairan yang disuntikkan itu kolagen. Apalagi, kolagen yang asli harganya cukup mahal. Satu CC harganya bisa mencapai 80 hingga 100 dolar AS. Padahal, untuk memperbesar payudara diperlukan cairan kolagen sebanyak 200 CC. Artinya perlu dana sekitar 40 ribu dolar atau sekitar Rp 360 juta,” kata Pamudji.

Dalam pemakaian yang cukup besar, tentu saja harganya sangat mahal. Oleh sebab itu, kolagen biasanya dipakai untuk mengatasi kerutan kulit bukan untuk memperbesar payudara.

Selain mahal, kolagen juga memerlukan tempat penyimpanan khusus, yaitu pada suhu rendah dan konstan. Ini membuat banyak rumah sakit tidak sanggup menyediakan stok kolagen cair bagi pasien. Alhasil, untuk memberikan pelayanan suntikan kolagen tidaklah mudah dan murah.

Pidana 5 Tahun

Maraknya peredaran silikon ilegal untuk mengubah bentuk bagian tubuh merupakan satu tindakan melanggar hukum. Bagi pelanggarnya diancam hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Dasar ilegal juga sudah jelas, tanpa disertai surat izin peredaran serta dilakukan orang lain yang bukan ahlinya. Ada atau tidaknya korban, yang jelas benda apapun yang tergolong ilegal pasti ada ancaman hukum pidananya.

Demikian Kapoltabes Palembang Kombes Pol Drs Lucky Hermawan MSi, Kamis (13/11). Menurutnya, selama peredaran barang tersebut jelas ada dan dapat dibuktikan keberadaanya maka jajarannya akan segera menindak lanjuti.

“Terus terang untuk kasus seperti ini, kami terhambat tidak ada laporan dari korban yang pernah disuntik, bila laporan sudah apa pasti pengusutan tuntas akan diberlakukan,” kata Lucky.

Khusus kasus seperti ini, pihaknya juga membutuhkan saksi ahli, seperti pihak medis yakni dokter yang membenarkan bahwa bila silikon tersebut masuk dalam tubuh manusia bisa berefek negatif bagi kesehatan.

Selain itu, faktor kejelasan surat edar juga perlu, apakah ada surat izin edarnya atau tidak. Bila kedua syarat itu tidak terpenuhi, lanjut Lucky, dipastikan pihaknya akan segera melakukan tindakan represif.

Terpisah Plt Kadinkes Palembang, dr Gema Aslani, M.Kes mengaku sulit memantau peredaran silikon yang dijual di pasar gelap. Pengawasan silikon sangat ketat baik oleh Dinas Kesehatan, Balai BPOM dan instansi terkait lainnya karena penggunaan hanya dilakukan dokter bedah untuk kepentingan medis.

Sekarang, praktik suntik silikon menjamur di berbagai tempat, yang dilakukan secara tersembunyi. (cr3/sta/cr1)

—————————————————————————————–

Whitening Cream : Serigala Berbulu Domba ?

Mau Cantik, Maut Taruhannya

Memermak Kecantikan Berujung Kematian

Mengandung Zat Kimia Berbahaya

Belajar dari Kasus Hilda

Spanish Look into Death of Nigerian First Lady After Cosmetic Surgery

Kanye West’s Mother Dies After Cosmetic Surgery

Surgeons Who Promise Beauty Destroy Lives by Lethal Injections

Suntik Payudara : Belajar dari Kasus Hilda

Hati-hati dengan Cara Instan untuk Cantik

JAKARTA – Tampil cantik dan sehat tentu sangat didambakan kaum wanita. Sehingga banyak cara instan yang ditempuh untuk cantik dalam sekejap tanpa memikirkan efek sampingnya. Contohnya, penyuntikan silikon cair maupun kolagen terhadap bagian tubuh tertentu untuk mempertahankan keindahan wajah dan tubuh.
Akibat ingin cantik dan molek itulah, seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Belanda, Hilda Pasman (20), justru tewas ketika sedang berupaya menyempurnakan penampilannya dengan cara memperbesar payudara. Perempuan itu tewas setelah Ho Tjun Tju, pemilik Salon Cucu, yang membuka usaha 15 tahun di bidang kecantikan, menyuntikkan cairan yang diakui sebagai kolagen ke dalam payudara Hilda.
Polsek Metro Kebon Jeruk akan mengirimkan botol berisi cairan yang disuntikkan ke payudara Hilda itu, ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, untuk memastikan apakah cairan itu kolagen atau zat lainnya. Untuk melengkapinya, Kapolsek Kebon Jeruk, Komisaris Ahmad Alwi, akan memanggil saksi ahli dari Departemen Kesehatan dan instansi terkait lainnya.
Di depan penyidik, Ho Tjun Tju mengatakan pada mulanya ia menolak memberikan suntikan kepada Hilda karena waktu itu hari Sabtu (7/8) sekitar pukul 16.00 WIB, ia hendak berangkat ke gereja. Tapi ternyata Hilda tetap memaksa Ho Tjun Tju supaya memberikan suntikan kolagen agar payudaranya membesar dan kencang. Beberapa saat kemudian setelah disuntik, Hilda justru kejang-kejang dan pingsan. Kemudian ketika dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RS Graha Medika, Hilda telah tewas.

Kejadian yang sama pernah terjadi pada Christin di Surabaya, yang tewas karena menyuntikkan kolagen ke dalam payudaranya pada tahun 2001. Di kalangan masyarakat pun, kini masih banyak ditemukan adanya kerusakan bentuk tubuh akibat kedua cairan tersebut. Menilik kasus-kasus tersebut sebenarnya dapat dikatakan upaya mempercantik diri itu sebenarnya hanya membuahkan kecantikan sesaat. Selanjutnya hanya penderitaan yang mereka dapatkan. Mengapa?
Seperti yang dikutip dari aplcare.com, silikon dan kolagen cair merupakan material yang banyak digunakan dalam operasi bedah plastik. Penggunaan silikon dan kolagen dalam bedah plastik harus dilakukan oleh dokter bedah plastik yang benar-benar mengerti mengenai hal ini. Alasannya, silikon maupun kolagen cair tidak dapat dibuang kapan pun diinginkan.
Penggunaan silikon dan kolagen untuk operasi plastik sebenarnya sangat terbatas. Silikon cair sudah ditinggalkan penggunaannya sejak 1970, karena banyak menimbulkan efek samping yang kurang baik. Sejak saat itu pula di luar negeri dikeluarkan pelarangan penggunaan silikon cair. Demi keamanan, implan silikon yang sampai saat ini masih digunakan adalah dalam bentuk padat dan gel.
Sedangkan penggunaan kolagen banyak dihindari karena reaksi hiper sensitivitas dan hasil yang kurang seimbang. Dr Sumintha B. Djaya, SpBP, anggota Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi) bahkan tidak percaya kolagen tidak ada lagi di Indonesia. Berdasarkan sifat dan cara kerjanya, penggunaan implan kolagen adalah sebagai sarana rejuvenasi kulit (mengatasi kerutan akibat proses penuaan), bukan untuk tujuan augmentasi (mempertinggi organ tertentu seperti memancungkan hidung, mempertinggi pipi, dsb).

Kerusakan Jaringan
Partikel-partikel silikon cair akan menumpuk di jaringan di tempat disuntikkan dan memicu timbulnya inflamasi kronik. Kerusakan jaringan yang demikian disebut sebagai silikonoma. Penyalahgunaan silikon cair akhir-akhir ini marak dilakukan, di klinik maupun salon kecantikan yang belum mendapatkan pendidikan tentang bedah plastik. Untuk salon-salon tertentu, mereka bahkan tidak memilki kualifikasi medis sama sekali. Umumnya, mereka menjanjikan kecantikan dan kemolekan dengan harga murah.
Di antara klinik dan salon tersebut banyak juga yang mencampur silikon cair dengan bahan-bahan lain yang dapat menambah kekenyalan. Selain itu, penambahan bahan ini juga untuk mempermurah harga silikon bagi pasien. Sayangnya, bahan-bahan tambahan itu pada akhirnya justru menyebabkan reaksi alergi pada tubuh. Akibatnya, bukan cantik dan molek yang didapat, tapi malah penyesalan seumur hidup dan tak jarang berujung pada kematian.
Menurut pengakuan Nunung (bukan nama sebenarnya), pemilik salon kecantikan, cairan silikon yang banyak digunakan saat ini adalah cairan minyak yang biasanya digunakan sebagai pelumas mesin foto copy. Warnanya bening dan berbentuk cair seperti minyak goreng. Di pasaran, cairan itu biasa dijual sekitar Rp 30.000 per liter, namun di toko kimia harganya bisa mencapai Rp 100.00 per liter.
Harga itu akan lebih mahal dua kali lipat, jika diperdagangkan di klinik maupun salon kecantikan. Lazimnya, perdagangan tersebut dilakukan dalam ukuran cc. Untuk membuat tonjolan di pipi, dagu maupun hidung, hanya membutuhkan 5 cc silikon. Sedangkan untuk memperbesar payudara diperlukan lebih dari 40 cc. Mereka harus membagi silikon dalam 5 cc silikon untuk satu kali penyuntikan. Ini berarti, ada sekitar delapan kali penyuntikan untuk memperbesar satu payudara.
Sementara itu, payudara dikelilingi oleh banyak pembuluh darah yang lembut. Ketidakhati-hatian dalam melakukan penyuntikan akan mengakibatkan pembuluh darah tersebut sobek. Ujung-ujungnya, cairan silikon tersebut bocor dan menjadi satu dengan darah, yang kemudian mengalir ke dalam jantung. “Itu kan kayak minyak jadi menggumpal ketika ada di jantung, sehingga jantungnya tidak dapat memompa darah. Atau paling ringan minyak itu bercampur dengan darah,” kata Nunung.
Nunung mengaku, selama ini dirinya selalu menolak pasien yang berkeinginan menyuntikkan silikon ke dalam bagian tubuhnya. Dia malah mengaku sering menolong dan mengobati orang-orang yang bentuk tubuhnya mengalami gangguan akibat penggunaan silikon.
Banyaknya korban yang jatuh tersebut, akibat maraknya klinik dan salon ilegal yang menggunakan silikon cair untuk mempercantik pasiennya. Namun, di Indonesia hal tersebut tak kunjung mendapatkan tindakan secara agresif. Mereka umumnya hanya dikenai pidana karena telah melakukan usaha ilegal. Sementara, hukuman karena telah memasukkan sesuatu ke dalam tubuh belum ada.
Untuk itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berusaha memasukkan permasalahan tersebut ke dalam salah satu pasal dalam Rancangan Undang Undang (RUU) Kedokteran. Surya Chandra, anggota Komisi VII DPR, mengemukakan bahwa pasal khusus tersebut akan memberi sanksi bagi setiap orang yang memberikan pelayanan seperti layaknya seorang dokter untuk mengintervensikan suatu benda ke dalam tubuh.
“Kalau salon-salon yang menggunakan jasa dokter tetapi tidak mendapatkan izin, maka dokternya pun juga bisa kena sanksi,” katanya. Hukuman yang diberikan akan semakin tinggi jika perbuatan tersebut mengakibatkan kematian. Dengan adanya undang-undang tersebut, paling tidak dapat membuat jera para pelakunya. (SH/tutut herlina/maya handini) sinarharapan.co.id/

——————————————————————–

Want More ?

Kosmetik Bocorkan Ginjal, Lebih 10 Wanita Bocor Ginjalnya di Medan

Praktik Bedah Platik Gelap, Dokter Dihukum 3 Tahun

Waria Tewas Usai Suntik Silikon

Disuntik Silikon, Hidung Lela Berantakan

Whitening Cream : Serigala Berbulu Domba ?

Mau Cantik, Maut Taruhannya

Memermak Kecantikan Berujung Kematian

Mengandung Zat Kimia Berbahaya