Tag Archives: wajah rusak akibat merkuri

Zat Kosmetik Paling Berbahaya !

inmagine.com

Hampir setiap perempuan ingin selalu tampil cantik. Tak heran jika produsen produk kecantikan berlomba menciptakan kosmetika yang dapat membuat perempuan cantik dalam sekejap.

Sayangnya sejumlah produsen produk kecantikan seringkali memanfaatkan kondisi dengan mengabaikan kesehatan konsumennya. Mereka nekat mencampur zat-zat berbahaya demi mengejar keuntungan bisnis.

Dokter Husniah Rubiana Thamrin Akib, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, mengatakan, sejumlah zat berbahaya yang biasa dicampur ke produk kecantikan antara lain merkuri, hidrokinon, asam retinoat, dan bahan pewarna sintetis. “Zat itu memang bisa menciptakan efek cantik dalam sekejap.”

Merkuri (Hg) atau Air Raksa
Merupakan logam berat berbahaya yang biasa digunakan untuk produk pemutih kulit. Produk bermerkuri biasanya mampu mempercepat proses pemutihan kulit dibandingkan produk tanpa merkuri.

Zat ini bersifat racun meski digunakan dalam konsentrasi kecil. Pemakaian jangka pendek dapat mengakibatkan perubahan warna kulit yang akhirnya menyebabkan bintik-bintik hitam, alergi, dan iritasi kulit. Sedangkan pemakaian jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada susunan syaraf, otak, ginjal dan gangguan perkembangan janin.

Bahkan pemakaiann jangka pendek dalam dosis tinggi dapat
menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan ginjal. Di ranah medis, Merkuri juga dikenal sebagai zat karsinogenik penyebab kanker pada manusia.

Hidrokinon
Termasuk golongan obat keras yang seharusnya dapat dikonsumsi dengan resep dokter. Zat ini juga biasa ditemukan dalam kosmetika wajah.

Bahaya pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah, rasa terbakar dan bercak-bercak hitam.

Asam Retinoat/Tretinoin/Retionic Acid
Kandungan zat ini dapat menyebabkan kulit kering, rasa terbakar dan teratogenik atau cacat pada janin.

Bahan Pewarna Merah K.3 (C1 15585), Merah K.10 (Rhodamin B), dan Jingga K.1 (C1 12075)
Merupakan zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil atau tinta. Zat warna ini merupakan zat karsinogenik penyebab kanker. Rhodamin B dalam konsentrasi tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan hati. (vivanews.com)

Berharap Wajah Memutih Malah Jadi Merintih


KETIKA Ny. Rinda, sebut saja namanya begitu, memasuki sebuah toko kosmetik di Kota Bandung, pelayan toko tidak terlalu memerhatikannya. Kendati muka ditutupi cadar, orang-orang di sekitarnya menganggap ia salah seorang penganut paham fanatik. Namun ketika ia menyibakkan cadarnya, orang meringis ngeri. Wajahnya retak-retak bagai sawah di musim kering. Ketika ia berbicara, dari retakan itu mengalir darah! Walau kesakitan, ia memaksakan diri datang ke toko untuk meminta pertanggungjawaban toko kosmetik tersebut.

Perempuan itu menuding, kerusakan wajahnya diakibatkan pemakaian kosmetika pemutih wajah yang dibelinya di toko tersebut.

“Peristiwa itu sudah agak lama. Dan jenis kosmetik pemutih wajah yang saat itu sedang tren kini sudah ditarik dari peredaran,” jelas Permadi (35) juga bukan nama sebenarnya. Permadi adalah salah seorang saksi mata dari “korban kosmetik ” tersebut, kebetulan juga seorang supplier kosmetik di Bandung.

Menurut Permadi, jenis kosmetik berbentuk krim tersebut memang termasuk keras. Tetapi kerusakan pada kulit wajah yang diakibatkan krim tersebut tidak menimpa semua pemakainya. “Sama seperti berbagai jenis krim lainnnya, pemakaian krim pemutih yang dijual bebas , cocok-cocokan (tergantung cocok tidaknya pada seseorang),” tegas Permadi.

Untuk mengetahui cocok tidaknya kulit seseorang pada krim pemutih yang akan dipakainya, menurut Permadi ada jalan sederhana. Sebelum memutuskan menggunakannya untuk wajah, coba oleskan dulu di kulit tangan sebelah atas.

Pakai selama semalam. Jika tidak ada reaksi, berarti krim itu aman,” saran Permadi.

**

BOLEH dibilang media telah sukses besar memengaruhi kaum perempuan. Melalui iklan berbagai produk, media gencar mencitrakan bagaimana perempuan yang disebut cantik itu. Sosok cantik yang dicitrakan dan kemudian menjadi idola para wanita di seluruh dunia adalah yang bertubuh langsing, rambut lurus dan berkulit putih.

Agar langsing, ya harus berani diet. Tak heran jika kemudian banyak komponen pendukung yang dipromosikan untuk menjadi langsing. Mulai dari gula rendah kalori, program pelatihan, pijat refleksi, tusuk jarum dan banyak lagi.

Sedangkan untuk mendapatkan rambut lurus, teknologi kecantikan yang makin tinggi telah berhasil menciptakan teknologi rebounding atau pelurusan rambut di salon-salon kecantikan.

Bagaimana dengan kulit wajah yang putih mulus? Ya, itu tadi. Sekarang banyak pemutih wajah yang dijual secara bebas.

Seorang ibu pernah terkaget-kaget ketika bertemu kembali dengan kenalannya. “Kok wajahnya jadi putih ya. Padahal setahu saya, dulu teman saya itu, ya sama seperti saya. Wajahnya sawo matang. Ternyata teman saya itu memakai pemutih wajah,” cerita ibu tersebut.

Pernah melihat seorang wanita yang berjalan di bawah terik matahari dengan kulit muka yang sangat merah? Bisa jadi ia juga pemakai kosmetika untuk pemutih wajah. Beragamnya jenis pemutih wajah beragam juga cara kerja dan hasilnya.

Banyaknya berbagai jenis pemutih wajah dengan harga variatif dari yang mahal hingga yang murah meriah akhir-akhir ini membuat semakin banyak juga kaum perempuan memburunya. Atau hal ini juga karena berlakunya hukum pasar. Ada demand (permintaan) maka ada suplai (penyediaan ). Karena begitu banyak perempuan yang ingin tampil dengan wajah putih mulus , maka produsen yang jeli cepat menangkap peluang untuk menghadirkan kebutuhan kaum perempuan ini.

Sayangnya, pihak produsen pembuat kosmetik sering tidak sabar melempar produk buatannya ke pasaran. Sebelum departemen kesehatan mengujinya, mereka sudah langsung memasarkannya. Ada juga produsen yang memang nakal. Kendati tahu bahan yang digunakan sebagai pembuat kosmetik pemutih adalah jenis zat berbahaya, atas nama keuntungan maka produsen (pura-pura) melupakannya.

Akhir Oktober lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 51 jenis kosmetik berbahaya. Di antara kosmetik tersebut terdapat beberapa jenis krim pemutih wajah. Selain tidak terdaftar, kosmetik-kosmetik tersebut ternyata mengandung bahan berbahaya seperti merkuri (Hg) dan merah K.10 (Rhodamin B,C.I Food Red No.15 C.I 45170 ). Bahan-bahan tersebut dilarang digunakan pada produk kosmetik.

Menurut Kepala Badan POM, H. Sampurna seperti dikutip “PR”, 20 Oktober 2004 lalu, penggunaan bahan-bahan tersebut akan merugikan kesehatan. Antara lain merusak kulit wajah berupa iritasi, pengelupasan kulit, hipopigmentasi, hiperpigmentasi dan karsinogenik teratogenik pada pemakaian jangka tertentu.

**

EUIS Megawati, Dra. dari Unit Layanan Pengaduan Konsumen Obat dan Makanan Balai Besar (BBPOM) Bandung mengungkapkan, merkuri bisa berakibat buruk pada ginjal, sedangkan rhodamin B bisa menyebabkan gangguan fungsi hati atau kanker hati apabila digunakan dalam jangka waktu lama.

Rhodamin B, lanjut Euis , merupakan zat warna sintetis yang sering digunakan untuk pewarnaan kertas dan tekstil. Rhodamin B dilarang digunakan untuk obat, makanan dan kosmetik. Hal ini sesuai dengan Permenkes No

293/Menkes/Per/V/85 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya.

Senada dengan Euis, menurut dokter spesialis kulit Wisnu Kusumawardana, Sp.KK. sebenarnya merkuri merupakan logam berat yang pada suhu kamar berbentuk cair.

Barangkali kita akan lebih bisa membayangkan jika menyebutnya sebagai air raksa. Dalam kosmetika, merkuri ini biasanya berbentuk senyawa, misalnya

Ammomated Mercury Chloride (NH2 Hg Cl). Pada kulit, terutama kulit wajah, merkuri bersifat korosif dan merangsang alergi. Artinya, ia dapat menyebabkan iritasi. Itu akibat yang ringan.

Merkuri bisa menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Karena sifatnya yang menyerap (absorb) melalui kulit, ia akan bisa mencapai aliran darah dan diedarkan ke organ tubuh lainnya. Akibatnya, merkuri akan terakumulasi dalam ginjal. Dalam jumlah yang banyak, tentu saja merkuri bisa merusak fungsi organ vital manusia.

“Makanya, sebaiknya merkuri tidak ada dalam kosmetika, karena sifatnya yang terakumulasi. Sayang kan jika zat itu sudah menyerang ginjal kita yang tadinya sehat?” kata Wisnu.

Kulit yang teriritasi merkuri sebenarnya tidak khas, sama saja dengan kulit yang teriritasi dengan zat-zat lain. Misalnya saja, akibat paling ringan berupa gatal-gatal dan pedih, kulit jadi memerah. Akibat yang lebih berat bisa berupa mengelupasnya lapisan teratas kulit (epidermis) yang biasa dikenal dengan istilah epidermolisis.

Parah atau tidaknya akibat merkuri, tergantung pada kekuatan kulit sang pemakai, juga seberapa banyak ia menggunakannya dan seberapa luas merkuri itu mengenai kulit seseorang.

Kalaupun Anda telanjur terkena dampak negatif merkuri, jangan putus asa, karena itu bisa diobati. “Tahap pertama, menghentikan pemakaian kosmetika yang mengandung merkuri. Lalu carilah dokter untuk meminta obat anti iritasi. Dokter akan melihat sejauh mana akibat yang ditimbulkan merkuri ini pada kulit seseorang. Jika terlihat agak parah, selain memberikan krim antiiritasi dokter akan memberi krim antibiotik. Bila gejala iritasi kulit kuat sekali dokter akan menambahkan obat peroral,” jelas Wisnu yang juga menjadi dokter konsultan di Natasha Skin Care.

Biaya penyembuhan tentunya tergantung seberapa parah akibat yang ditimbulkan merkuri pada kulit.

Iritasi akibat merkuri memang bisa dihilangkan, namun alangkah lebih baik jika kita menghindari kosmetika yang mengandung merkuri sebelum zat itu merusak tubuh.

Sayangnya kita tidak bisa membedakan mana kosmetika yang mengandung merkuri dan mana bebas zat berbahaya itu. “Produk yang mengandung merkuri tidak dapat dilihat secara kasat mata. . Pembuktiannya harus melalui tes di laboratorium,” tegas dokter yang pernah menjalani crash programm skin care di Singapura dan mendalami masalah dermatitis di Malaysia ini.

Sebagai tindakan waspada, kita harus memilih kosmetika yang aman. Untuk itu,paling tidak ada tiga hal yang bisa dilakukan.

Pertama, memilih produk yang terdaftar di pemerintah. Hal itu bisa dilihat dari tanda apakah produk tersebut sudah ada nomor kode dari Depkes.

Kedua, pilihlah produk yang diawasi tim medis/dokter. Ada banyak produk yang dalam pengolahannya di bawah pengawasan dokter ahli, termasuk produk-produk kosmetika buatan dalam negeri. Ketiga, menggunakan produk kosmetika atas anjuran dokter, terutama dokter yang ahli dalam kulit dan kosmetika. Masih ragu dengan satu produk yang Anda pakai? Bawalah kosmetika itu ke dokter kulit, tanyakan apakan produk tersebut aman untuk jenis kulit Anda. Tidak ada salahnya jika sesekali Anda mendatangi LP POM untuk menanyakan produk mana yang sudah aman dan mana yang tidak.

Selain merkuri, lanjut Wisnu, ada zat lain yang biasanya terdapat dalam kosmetika dan perlu diwaspadai, yakni zat pewarna Rhodamin B. Pewarna tekstil ini biasa ditemukan pada blush on. Rhodamin B bisa terabsorbsi oleh kulit dan terakumulasi di dalam hati.

Ella/”PR” – Uci


———————————————————————

Want More ?

Dampak Dandan terhadap Nilai Tukar Rupiah

READ THIS FIRST !

Stop Using Dangerous Cosmetics !

True Story : Bencana Krim Siang & Krim Malam

Dikagumi 9 dari 10 Laki-laki